About Me

Foto saya
this is the real me.. please join with me at : http://facebook.com/ShabrinAdlina http://twitter.com/bynaaabin

Selasa, September 15, 2009

Neisya dan Reo

Ini kisah tentang Neisya dan Reo. Mereka adalah sepasang kekasih sejak mereka sama-sama duduk di bangku kelas 1 sma. 4 tahun sudah perjalanan kisah cinta Neisya dan Reo. Sekarang mereka sudah melanjutkan kuliah di tempat yang berbeda, namun itu tidak menjadi penghalang sedikitpun untuk hubungan dan kesetiaan mereka. Tak ada yang berubah dari Reo kepada Neisya, Reo masih seperti Reo yang dulu, yang selalu memberi perhatian kepada Neisya kekasihnya.
Namun pada suatu hari secara tiba-tiba, Reo datang ke rumah Neisya untuk berpamitan, dengan alasan Reo mendapat tawaran kontrak kerja selama 1 tahun di luar negri yang diberikan oleh papahnya yang juga sedang tugas disana. Reo terpaksa berbohong kepada Neisya, karena Reo tidak ingin kepergiannya ini menambah beban pikiran untuk Neisya. Sebenarnya kepergian Reo ke Singapore bukan untuk menerima tawaran kontrak kerja seperti apa yang telah Reo katakan kepada Neisya, melainkan Reo hendak menjalani terapi untuk kanker otaknya yang sudah memasuki stadium 2 dan harus segera dengan cepat di tangani dengan peralatan yang lebih canggih di Singapore sana, bukan di Indonesia. Yaah, walaupun berat, namun Neisya harus bisa berlapang dada menahan kerinduan kepada kekasihnya itu yang besok sudah harus berangkat meninggalkannya. Reo pun hendak berpamit pulang untuk prepare keberangkatannya besok. Reo memeluk Neisya erat menunjukkan kalau kepergiannya ini memang terasa berat untuk mereka, Reo pun berbisik kepada Neisya, “sabar ya sayang, tunggu aku pulang lagi, aku janji hanya 1 tahun aku disana, jaga diri kamu baik-baik selama gak ada aku ya, aku ingin kamu 1 tahun kedepan tetap seperti ini dan jangan pernah berubah, aku cinta kamu, Neisya.” Dan Neisya pun menangis dalam pelukan Reo.
Keesokan harinya, Reo pun menjemput Neisya dirumahnya untuk ikut mengantar kepergiannya hari itu. Sesudah mereka sampai di bandara, dan mereka sudah siap berada di ruang tunggu untuk keberangkatan luar negri. Reo pun mulai berpamitan dengan mamahnya yang hari itu juga ikut mengantarnya bersama adik perempuan Reo yang bernama Tasya. Reo pun bersalaman dengan mamahnya dan memeluk mamahnya sambil membisikkan sesuatu, “jaga Neisya baik-baik ya mah selama Reo pergi, kasih kabar tentang Neisya sama Reo kalau dia ada apa-apa, dan jangan kasih tau Neisya ya mah kalau keberangkatan Reo ini untuk terapi disana.” Mamahnya pun hanya mengangguk mendegar bisikan Reo. Kembali lagi Neisya dipeluknya erat-erat seakan berat sekali Reo untuk meninggalkan Neisya, dan melepaskan tugasnya sementara untuk menjaga kekasihnya itu. Mereka pun menemani Reo sampai memasuki pesawat, dan pesawat Reo pun take off, mereka pun kembali pulang.

1 tahun sudah semua berlalu.
Reo pun menepati janjinya kepada Neisya untuk pulang setelah 1 tahun berada di Singapore. Dan hari itu Neisya menjemput Reo bersama mamah Reo dan Tasya di bandara seperti 1 tahun lalu keberangkatan Reo. Wajah cantik Neisya pun memancarkan rona kerinduan dan kebahagian. Dan Reo pun tersenyum bahagia melihat Neisya menepati janjinya, untuk menunggu dia, dan masih tetap seperti 1 tahun yang lalu, dan tidak ada yang berubah sedikitpun tentang perasaan mereka.

1 bulan sudah.
Mereka lalui hari-hari mereka seperti dulu yang selalu bersama, dengan sejuta rasa cinta dan sayang serta kesetiaan yang kini sudah menginjak usia 5 tahun kebersamaan mereka. Rona bahagia selalu menghiasi wajah Reo dan Neisya. Membuat orang-orang disekitar mereka merasa iri melihat Reo dan Neisya yang teramat serasi, dan tidak pernah terlihat ada masalah dan selalu saling mendampingi dan melengkapi, dan ingin rasanya menjadi pasangan yang seperti Reo dan Neisya. “perfecto!” mereka pun bilang begitu.
Sampai pada suatu hari, Neisya menceritakan kepada Reo tentang vonis dokter terhadap dirinya yang terkena kanker otak yang kini sudah memasuki stadium akhir. Neisya tidak bisa terlalu lama menutupi hal itu dari kekasihnya, karena sekarang kondisi Neisya yang sudah terbaring di rumah sakit dan tidak mampu berjalan lagi, tangannya pun sudah sulit untuk digerakan, bicaranya sudah mulai terbata-bata. Reo pun kaget, gak percaya hal yang pernah ia alami juga dialami kekasihnya itu dan sangat sedih melihat kondisi kekasihnya itu. Lagi-lagi ini sebuah cobaan untuk kesetiaan mereka.
Namun Reo tetap setia menjaga Neisya yang telah 1 minggu terbaring di rumah sakit, Neisya sudah tidak dapat berjalan lagi, bicaranya pun sudah terbata-bata, dan tangannya pun sudah sulit untuk di gerakkan.
Dan sampai pada suatu hari, dimana tanggal 17 oktober tepat sehari sebelum hari ulang tahun Neisya. Pukul 23.30 malam, Reo sudah berada di ruang inap Neisya membawakan sebuah birthday cake yang cantik, disana tergambar wajah cantik Neisya, cake itu memang sudah menjadi pesanan Reo sejak 2 hari yang lalu. Reo pun juga membawakan sebuah hadiah yang sangat cantik untuk Neisya, sebuah kalung berliontin hati, dipakaikannya terlebih dahulu kalung cantik itu ke leher Neisya, Neisya pun tersenyum melihat kekasihnya yang teramat perhatian itu. Reo pun juga tersenyum manis melihat wajah Neisya yang selalu tetap cantik meskipun dia sedang terbaring sakit. Reo menyanyikan sebuah lagu selamat ulang tahun untuk Neisya sambil menyalakan lilin berangka 18 itu, Neisya pun menyimak dan tetap dengan senyuman manisnya. “happy birthdayyy Neeiissyaaa…” lagu itupun selesai dinyanyikan oleh Reo dan Reo pun mencium kening Neisya, tepat ketika jam berbunyi 12 kali, menunjukkan saat itu sudah pukul 00.00, ketika Reo melepaskan ciuman di kening Neisya, dan hendak menyuruh Neisya untuk make a wish, saat itu Reo baru menyadari kalau Neisya telah menutup matanya, dan hembusan nafasnya pun sudah tidak dirasakan lagi oleh Reo, Reo pun tidak percaya, dia pegang urat nadi yang ada di tangan Neisyaa… berhenti… Reo pun tetap tidak percaya, di goyah-goyahkan tubuh Neisya berharap Neisya dapat terbangun lagi, tapi hasilnya tetap nihil. Reo pun menyerah, airmatanya pun jatuh menetes di pipi Neisya, di peluknya kekasihnya itu erat-erat, seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi.
Tiba-tiba Reo menemukan sebuah tape recorder di samping bantal Neisya, cepat-cepat Reo pun menekan tombol play, dan… suara Neisya pun terdengar dari dalam tape record ituuu…

“dear Reo yang aku sayang…”
“maafin aku, disaat kepulangan kamu ini, aku udah gak bisa lama lagi menemani kamu seperti waktu kita dulu, sayangg… kamu lihat sendiri keadaan aku sekarang yang seperti ini, dan vonis dokter terhadap hidup aku yang udah gak akan lama lagi… tapi aku ingin masih bisa mencapai hidup di hari ulangtahunku besok lusa, yang mungkin akan menjadi ulangtahun terakhir di hidup aku… melalui kaset rekaman ini, aku cuma ingin menyampaikan sebuah pesan dan harapan aku buat kamu… semoga, kepergianku suatu hari nanti gak akan buat luka yang terlalu dalam dan panjang untuk kamu, aku ingin kamu tetap bangkit meskipun tanpa aku di sisi kamu lagi, aku juga ingin suatu hari nanati kamu dapatkan seorang wanita terbaik yang dapat menggantikan posisi aku yang sudah tak berdaya untuk terlalu lama menemani kamu lagi, sayangg… aku minta maaf, udah gak bisa nepatin janji kita, masih banyak harapan-harapan yang belum kita raih bersama… maafin aku atas semua ini yang mungkin terlalu mendadak untuk kamu mengerti dan dapat menerimanya…”
aku yang selalu mencintaimu, ‘NEISYA’